Dihimpun oleh : Dr. Guli Mudiarcana
Wakil Ketua PHDI OKU- Sumatera Selatan
Dalam
setiap pelaksanaan upacara perkawinan Hindu, tidak mengabaikan adat
yang telah ada dalam masyarakat, karena umat Hindu selain berpedoman
pada Kitab Weda, juga berpedoman pada Śmrti dan hukum Hindu yang
berdasar- kan pada kebiasaan yang telah dilakukan secara turun temurun
disuatu tempatyang disebut Acara.
Dengan melakukan upacara yang dilandasi kitab suci Weda dan mengikuti tata cara adat yang telah berlaku turun temurun, maka akan mendapatkan kebahagiaan di dunia ini (jagaditha) dan kebahagiaan yang abadi (Moksa).
Sistem perkawinan yang umum dilaksankan oleh umat Hindu etnis Bali adalah dengan cara :
A. Memadik/Meminang/Melamar
B. Merangkat/ Ngerorod
A. TATACARA PERKAWINAN MEMADIK/ MEMINANG
1. MENCARI HARI BAIK/ MEDEWASA AYU
Mencari hari baik (dewasa)
biasanya dilakukan oleh pihak pengantin pria, dengan cara minta
petunjuk kepada seorang Sulinggih atau seseorang yang sudah biasa
memberikan dewasa (nibakang padewasaan). Adapun dewasa
yang diminta biasanya berurutan sesuai dengan acara-acara dalam
pelaksanaan upacara perkawinan, antara lain: dewasa pangenten
(pemberitahuan), dewasa mererasan (meminang/mapadik), dewasa penjemputan
calon pengantin wanita dan dewasa pawiwahan
2. PEMBERITAHUAN
Pada
hari ini orang tua calon pengantin pria datang ke rumah calon pengantin
wanita bertemu dengan orang tuanya untuk bermusyawarah mengenai tujuan
dari kedua calon pengantin serta meminta persetujuan kepada orang tua
calon pengantin wanita tentang hari baik (padewasan sesuai dengan
tahapan acara perkawinan), seperti mengumumkan kepada keluarga besar
di masing-masing kedua keluarga calon pengantin dan mengumpulkan
keluarga besarnya untuk bisa menyampaikan tentang tujuan keluarga calon
pengantin serta memohon bantuannya baik bersifat phisik maupun
material.
3. MEMINANG/MEMADIK
Pada
hari ini keluarga besar dari pihak calon pengantin pria datang ke rumah
calon pengatin wanita untuk meminang. Pada saat melamar, kadang-kadang
masing-masing keluarga calon pengantin mengungkap atau memaparkan
silsilah keluarga. Pada saat melamar pihak keluarga atau wakil keluarga
dari calon pengantin laki-laki biasanya mempersiapkan wakil keluarga
yang akan menyampaikan silsilah keluarga, jika pihak keluarga pengantin
wanita menanyakan tentang silsilah keluarga calon pengantin laki-laki.
Mengungkap silsilah keluarga berguna untuk menghindari adanya hubungan
sedarah antara calon pengantin laki-laki dan calon pengantin wanita,
sehingga apabila hal itu terjadi pernikahan tersebut dapat dicegah
sebelum dilangsungkannya upacara pernikahan.
Acara memadik menggunakan upakara. Adapun upakara yang dibawa pada waktu memadik (meminang), antara lain:
a. Pejati, sebagai upakara pesaksi untuk dihaturkan di pemerajan calon pengantin perempuan
b. Canang pangraos, ditambah dengan segehan putih kuning asoroh.
c. Pagemelan (rarapan) atau saserahan.
Jenis
dan jumlah saserahan ini tergantung pada kesiapan, keseriusan, dan
ketulusan keluarga calon pengantin laki-laki. Seserahan dapat berupa
berbagai macam kue, buah-buahan, Pakaian sembahyang (pasaluk), dan alat sembahyang.
4. UPACARA NGEKEB
Acara
ini bertujuan untuk mempersiap- kan calon pengantin wanita dari
kehidup- an remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga. Dengan
cara : Pada sore hari (sehari sebelum acara boyongan/ penjemputan
penganten wanita), seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran
yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang
telah dihaluskan. Sesudah acara mandi dan keramas selesai,
dilanjutkan upacara di dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar
itu telah disediakan sesajen. Setelah masuk kamar calon pengantin wanita
tidak diperbolehkan lagi keluar dari kamar sampai calon
suaminya menjemput. Pada saat acara penjemputan, seluruh tubuh
pengantin wanita mulai dari ujung kaki sampai kepala ditutupi selembar
kain kuning tipis. Hal ini sebagai perlambang bahwa pengantin wanita
telah bersedia mengubur masa lalunya sebagai remaja dan kini telah siap
menjalani kehidupan baru bersama pasangan hidupnya.
5. PENJEMPUTAN CALON PENGANTIN WANITA
Apabila
calon pengantin wanita tidak diboyong pada saat memadik, maka acara
berikutnya adalah penjemputan calon pengantin wanita oleh calon
pengantin pria. Pada hari ini calon pengantin pria diikuti oleh anggota
keluarga beserta unsur-unsur prajuru seperti ketua adat, dan sesepuh
datang ke rumah keluarga calon pengantin wanita untuk menjemput calon
pengantin wanita. Pada hari ini umumnya pihak calon pengantin pria
membawa upakara berupa:
a. Upakara mamerasan berupa: (1) Pejati asoroh, (2) Canang burat mangi lengawangi, (3) Segehan putih kuning asoroh, dan (4) Canang Pangerawos
b. Sarana
sebagai Penukar Air Susu dan alas rare (aled rare) berupa: (1) Basan
buat, (2) Kain saparadeg, (3) Gelang, kalung, pupuk, dan (4) Handuk.
c. Upakara Pengungkab Lawang (jika dilakukan) berupa: (1) Pejati dan suci alit, (2) Peras
pengambean, (3) Caru ayam brumbun asoroh, (4) Bayekawonan , (5)
Prayascita, (6) Pangulapan, (7) Segehan panca warna, (8) Segehan seliwah
atanding, dan (9) Segehan agung.
Pengungkab
lawang merupakan acara untuk mempertemukan pertama kali calon pengantin
pria dengan calon pengantin wanita. Ngungkab lawang dilakukan pada
upacara perkawinan tingkat utama (Meminang/ memadik).
Tujuan dari acara ngungkab lawang adalah
untuk menghormati keluarga calon pengantin wanita oleh keluarga calon
pengantin pria sehingga hubungan kedua calon pengantin akan semakin
harmonis, selaras dan serasi. Hal ini sesuai dengan sloka dalam kitab suci sebagai berikut:
Yatra nāryāstu pūjyante ramante tatra devatāh, yatraitāstu na pūjyante sarvās tatrā phalah kriyāh
artinya
Di
mana wanita dihormati, di sanalah para dewa merasa senang, tetapi di
mana mereka tidak dihormati, maka tidak ada upacara suci apapun yang
akan berpahala”.
Ngetok lawang diawali dengan gending Bali/ syair weda oleh calon pengantin pria dari luar misalnya sbb :
SYAIR / KIDUNG NGUNGKAB LAWANG
Aku penganten pria, Engkau penganten wanita,
Aku kidung.
Dan engkau Syair,
Aku surga,
Dan Engkau bumi,
Kita akan tinggal disini bersama,
menjadi orang tua bagi anak-anak.
(Atharwaweda XIV.2.71)
Dibalas oleh calon pengantin wanita dari dalam rumah. Sbb:
Akulah bendera,
Akulah pemimpin,
Aku memiliki kepasihan yang unggul,
kekasihku bekerjasama denganku,
dan mengikuti kehendakku.
(RigWeda.X.159.2)
Kemudian
calon pengantin wanita dituntun oleh orang tuanya keluar rumah membuka
pintu, kedua calon penganten saling mendekat, Kira-kira berjarak 3
meter, ke duanya saling lempar sebundel daun betel berisi jeruk purut didalamnya, yang di-ikat dengan benang putih. Daun betel mempunyai
kekuatan untuk tolak bala dari gangguan buruk. Dengan saling melempar
daun betel satu sama lain, membuktikan bahwa mereka benar-benar manusia
sejati, bukan setan atau orang lain yang menyerupai / menganggap
dirinya sebagaipengantin laki-laki atau perempuan. (daun betel dan jeruk dapat diganti daun sirih dan buah pinang)
Setelah
itu orang tua mempelai wanita membimbing tangan kanan calon mempelai
wanita serta mengambil tangan kanan calon mempelai pria, dan kedua
tangan pananmempelai saling digenggamkan dengan doa sebagai berikut :
DOA MENYERAHKAN CALON MEMPELAI WANITA oleh ORANG TUA MEMPELAI WANITA
Om suddhah puta yosito yajniya ima.
Brahmanam hastesu pra prthak sadayami ( Atharwaweda XI.I.27)
Om sumangalir iyam vadhur
Imam sameta pasyata
Saubhagyam asyai dattvaya
Athastam vi paretana ( Rgweda X.85.33)
Artinya :
Atas
Restu Hyang Widdhi. Kami berikan gadis yang murni, yang berbudi luhur
dan yang suci ini kepada Orang Bijak yang berpengetahuan tinggi.
Hyang
Widdhi, Penganten Wanita ini sangat beruntung. Wahai penganten Pria
yang lembut datanglah dan pandanglah dia. Berkatilah dia dengan
keberuntungan dan berangkatlah kerumahmu.
DIJAWAB OLEH CALON MEMPELAI PRIA SBB :
Mameyam astu posya,
Mahyam tvadad brhaspatih,
Maya patya prajavati,
sam jiva saradah satam
(atharvaveda xiv.1.52)
Artinya :
Engkau kekasihku,
yang dianugrahkan Hyang Widdhi kepadaku, aku akan mendukung dan
melindungimu. Semoga engkau hidup berbahagia bersama-ku dan anak
keturunan kita sepanjang masa”.
Kemudian kedua mempelai mengkuti prosesi mebiyakala dan prayascita oleh
Pinandita. Dilanjutkan dengan sumpah perkawinan, Kedua mempelai saling
ber hadapan muka dan kedua tangan mem- pelai pria menggenggam kedua
tangan mempelai wanita.
èSumpah Perkawinanç
SMARA STAVA
(dibaca oleh penghulu nikah)
Om pranamya ta sang hyang smaram,
Prabodham asta kamas te,
Saha smara samara devi,
Misrosadhi suksma jnanam
Om stutis tribyandvana purve,
Mama kayo ’gneyasanam,
daksine janma yauvanam,
Dharmavata nairrtitah
Pascime ca, yauvana ca,
strimado vayavyam,
uttare maro rathas ca,
airsanyam tu bandhah sthitah.
Ity ete smara puja ca,
nara suranugrahas,
tirupam suruvam viryam,
prasiddhottama yauvanam.
Om om sang hyang smara deva puja ya namah svaha
UNTUK PENGANTIN PRIA UCAPKAN ( RigWeda X.85.36)
WAHAI
MEMPELAI WANITA: (Sebut Namanya). DI HADAPAN HYANG WIDHI DAN PARA
SAKSI, SAYA GENGGAM TANGANMU BAGI KEMAKMURAN. SEMOGA ENGKAU DAPAT
MENJADI PENDAMPING HIDUP SAYA, SEBAGAI ISTRI, SAMPAI AKHIR HAYAT.
UNTUK PENGANTIN WANITA UCAPKAN (Atharwaweda XIV.2.63)
DIHADAPAN
HYANG WIDHI DAN PARA SAKSI SAYA BERDOA SEMOGA ENGKAU; SUAMI SAYA:
(Sebut Namanya) SEMOGA BERUSIA PANJANG DAN DAPAT HIDUP BERSAMA SAYA
DENGAN PENUH SETIA SAMPAI AKHIR HAYAT
KEMUDIAN PENGHULU MEMBACAKAN MANTRA BERIKUT :
Samrajni svasure bhava,
samrajni svasrvam bhava,
nanandari samrajni bhava,
samrajni
adhi
devrsu. (Rgveda x.85.46)
Yantri rad yantri asi yamani,
dhruva- asi dharitri.
(Yajurveda XIV.22)
Virasup devakama syona,
sam no bhava dvipade,
Sam catuspade.
( Rgveda X.85.43)
Agne sardha mahate saubhagaya,
tava dyumnani-uttamani santu
(Rgweda V.28.3)
Anvarabhetham anusam rabhetam,
atam lokam srad-dadhanah sacante
(Atharwaweda VI.122.3)
Hasamudau mahasa modamanau
(Atharwaweda XIV.2.43)
Artinya:
Wahai
mempelai wanita, jadilah nyonya rumah tangga yang sesungguhnya,
dampingilah (dengan baik) ayah ibu mertuamu, dampingilah (dengan baik)
saudara saudari iparmu.
Wahai mempelai wanita, jadilah pengawas keluarga yang cemerlang, tegakkanlah aturan keluarga, dan jadilah penopang keluarga.
Wahai
mempelai wanita, lahirkanlah keturunan yang cerdas, gagah, dan berani,
Bersembahyanglah selalu kepada Hyang Widdhi, jadilah insan yang ramah
dan menyenangkan kepada semua orang, dan peliharalah dengan baik
hewan peliharaan ( harta benda) keluarga”.
Wahai
orang yang mulia (mempelai pria), berusahalah dengan keras untuk
kemakmuran yang besar, semoga ke - masyuran dan rejekimu menjadi unggul
Wahai
pasangan suami isteri, tekunlah bekerja dan tetaplah berkarya, hanya
orang-orang yang bersungguh-sungguh berhasil di dunia ini.
Wahai pasangan suami isteri , bersenang hatilah dengan kegiatan usahamu dan jalanilah hidup dengan riang gembira
Kemudian
dilanjutkan dengan penanda-tanganan surat-surat nikah oleh kedua
mempelai dan saksi-saksi. Setelah surat-surat nikah selesai
ditandatangani, acara selanjutnya adalah Nasehat Perkawinan yang
diberikan oleh : Ketua Adat, PHDI, dan Keluarga kedua mempelai.
Setelah
nasehat perkawinan selesai, dilanjutkan dengan doa Syukur bahwa acara
pernikahan dapat terlaksana dengan baik. Dimohonkan kepada semua hadirin
mengucapkan doa sebagai berikut :
DOA BERSAMA NIKAH
(dipimpin oleh penghulu/Juru Nikah)
Om ihena vindra sam nuda cakravakeva dampati. (Atharwaweda XIV. 2.64)
Om sam jaspatyam suyamam astu devah (Rgveda X. 85. 23)
Om asthuri no garhapatyani santu (Rgveda VI. 15. 19)
Om ihaiva stam ma vi yaustam,
visvam ayur vyasnutam,
kridantau putrair naptrbhih,
modamanau sve grhe (Rgveda X. 85. 42)
Om Abhi vardhatam payasa,
Abhi rastrena vardhatam,
Rayya sahasra varcasa,
Imau stam anupaksitau.(Atharwaweda VI.78.2)
Artinya :
Hyang Widdhi, Persatukanlah kedua mempelai ini bagaikan angsa cakravakewa yang tidak pernah berpisah dengan pasangannya.
Hyang Widdhi, Semoga kehidupan pernikahan ini tenteram dan bahagia.
Hyang Widdhi, Semoga hubungan suami-istri ini tidak pernah putus dan dapat berlangsung selamanya.
Semoga
pasangan suami-istri ini tetap erat dan tak pernah terpisahkan,
mencapai kehidupan yang penuh kebahagiaan, tinggal di rumah dengan hati
gembira, dan bersama bermain dengan anak-anak dan cucu-cucu”
Hyang
Widdhi, semoga pasangan suami istri ini menjadi makmur, bersama dengan
kemajuan dan kemakmuran nasional, semoga mereka dikaruniai rejeki yang
besar dan tidak habis-habisnya dan tumbuh selamanya.
Setelah
acara seremonial nikah selesai, Acara dilanjutkan di
Pemerajan untuk melakukan persembahyangan memohon doa restu dari Sang
Hyang Guru dan para leluhur pihak pengantin wanita. Selesai sembahyang
dilanjutkan dengan sembah sungkem kepada kedua orang tua calon pengantin
wanita untuk mohon doa restu. Sembahyang di pemerajan merupakan mohon
doa restu secara niskala kepada leluhur, sedangkan secara sakala
adalah mohon doa restu dari kedua orang tua.
A. URUT-URUTAN CARA MERANGKAT/ NGEROROD
Pernikahan
secara Ngerorod/Merangkat, seluruh ritual dan administrasi Nikahnya
dilakukan dipihak mempelai Pria. Adapun urut-urutannya sbb :
DIRUMAH MEMPELAI PRIA
Sesampai
di depan pintu gerbang rumah calon pengantin pria. Kedua mempelai
diberikan segehan putih kuning, sebagai sarana penetralisir kekuatan
yang bersifat negatif, karena kedua calon pengantin secara spiritual
adalah dalam kekuasaan kama (diliputi nafsu). Adapun doa/ syair yang dibacakan ( baik secara Memadik maupun Ngerorod) sebagai berikut :
DOA PENYAMBUTAN MEMPELAI WANITA
OLEH KELUARGA MEMPELAI PRIA
DI RUMAH MEMPELAI PRIA
Tetap
sadar, sebagai wanita yang pintar dan waspada, Menikmati hidup yang
penuh selama seratus tahun. Masukilah rumah ini sebagai ratu
yang ideal, Semoga Hyang Widdhi menganugrahi engkau usia
panjang (Atharwa Weda XIV.2.75)
Kemudian kedua mempelai diantar ke depan dapur untuk melaksanakan penyucian kecil, yaitu diperciki tirta pabayekaonan, maprayascita dan terakhirngayab upakara peras pengambean dan dapetan. Maksud penyucian ini adalah penyucian pertama dari sebel kandelan pengantin karena menempuh cara ngerorod/merangkat.
6. UPACARA PERKAWINAN (WIWAHA SAMKARA) DIRUMAH PENGANTIN PRIA
a. Upacara makala-kalaan/sarira samkara
Upacara
makala-kalaan bertujuan untuk membentengi kehidupan perkawinan dari
gangguan Bhutakala. Upacara ini dituju-kan kepada bhūtakala, semacam
pemberi- tahuan kepada para bhutakala bahwa kedua mempelai telah
secara sah terikat dalam perkawinan dan jangan meng-ganggu kehidupan
perkawinan mereka.
Upacara makala-kalaan juga disebut upacara bhūta saksi atau pertiwi saksi.
Selain
itu tujuan dari upacara makala-kalaan adalah untuk menghilangkan dan
sekaligus menyucikan kedua pengantin dari segala mala atau menyucikan
sukla dan swanita.
Dalam
pelaksanaan upacara makala-kala an digunakan beberapa uparengga.
Uparengga yang dipergunakan pada upacara makala-kalaan memiliki fungsi
sebagai bahasa isyarat dan symbol yang mengandung nilai-nilai
filsafat/tattwa yang sangat tinggi dan dalam. Adapun uparengga yang
dipergunakan adalah:
1. Sanggah Surya /Api suci
2. Kalabang Kala Nareswari (Kala Badeg),
3. Tikeh dadakan (tikeh kecil),
4. Benang putih,
5. Tegen-tegenan,
6. Suhun-suhunan (sarana junjungan),
7. Sapu lidi tiga katih ,
8. Sambuk (serabut) kupakan,
9. Kulkul berisi berem
10. Tetimpung
Dalam rangkaian upacara makala-kalaan ada sarana yang dipergunakan yaitutetimpug yang dibuat dari tiga buah potong bambu yang masing-masing ada ruasnya, yaitu lima ruas atau tujuh ruas.
Ketiga
potong bambu ini diikat jadi satu kemudian dibakar di atas tungku
bata yang dibuat pada saat upacara makala-kalaan. Makna yang
terkandung adalah secara niskala memanggil para bhūta kala bahwa
upacara segera dimulai.
Kedua
pengantin menghadapi upakara dengan posisi duduk. Pengantin wanita
berada di sebelah kiri pengantin pria, kemudian kedua penganten natab
banten bayakawonan, dan maprayascita sebagai pembersihan. Selesai
natab biyakaonan dan prayascita kedua pengantin menuju ke tempat
mategen-tegenan
b. Metegen-tegenan dan suun-suunan
Penganten pria memikul tegen-tegenan. Pengantin wanita menjunjung suhun-suhunan, sambil membawa sapu lidi tiga biji, keduanya berjalan mengelilingisanggah surya ( bisa juga Api suci/Agni horta) ke arah purwa daksina (arah
jarum jam). Posisi penganten pria di depan dan penganten wanita
dibelakang kedua sabuk saling diikatkan kuat-kuat,. Pada tujuh langkah
pertama (Saptapadi ), Kedua Pengantin berjalan
tujuh langkah bersama untuk menandai awal perjalanan mereka melalui
kehidupan bersama. Setiap langkah merupakan sumpah perkawinan:
Tujuh langkah bersama
(SAPTAPADI)
Langkah :
1. Hyang Widdhi kami suami isteri akan saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
2. Hyang Widdhi kami suami-isteri akan selalu setia dan saling percaya satu sama lain.
3. Hyang Widdhi, kami suami isteri akan saling berbagi dalam suka maupun duka dan saling mendukung dalam suka dan duka.
4. Hyang
Widdhi kami suami-isteri akan merawat dan mendidik anak-anak kami
dengan nilai-nilai Dharma , selalu hormat kepada orang tua, ayah-ibu
mertua, saudaraa saudara ipar dan kerabat.
5. Hyang Widdhi kami suami-isteri akan mengikuti prinsip-prinsip Dharma dan melaksanakan kewajiban sebagai umat Hindu.
6. Hyang
Widdhi kami suami-isteri akan selalu memeilhara ikatan pernikahan ini
dengan sungguh-sungguh, memelihara persahabatan dengan sahabat-sahabat
kami, menghormati para guru, para dwijati dan para pemimpin.
7. Hyang
Widdhi, kami suami-isteri akan selalu menumbuhkan apresiasi terhadap
Ilmu pengetahuan, nilai-nilai pengorbanan dan pelayanan.
Diteruskan dengan berkeliling sebanyak 7 kali. Pada setiap putaran, kedua mem- pelai menendang serabut kelapa belah tiga (kala sepetan) yang di dalam- nya berisi telor, dan diikat dengan benang tridhatu.
Sebagai tekad bahwa kedua mempelai secara
bersama-sama siap menyingkirkan segala cobaan yang dihadapi dalam
kehidupan rumah tangganya kelak. Berkeliling sambil bersama sama mengucapkan doa sbb :
DOA MENGELILINGI SANGGAH SURYA / API SUCI
Penganten Pria : Bhs Sansekerta
Penganten Wanita : Bhs Indonesia
1. Om Samanjantu waswe dewah,
sam apo hrdayani nau (Rgweda. X.85.47)
Semoga para dewa mempersatukan hati kami berdua
2. Om sam jaspatyam suyamam astu dewah (RgWeda X.85.23)
Semoga Hyang Widdhi memberi kebahagiaan dan ketentraman pada kehidupan pernikahan kami.
3. Om prajam pustim bhukim asmasu dhattam (Rgweda VIII.59.7)
Semoga Hyang Widdhi menganugrahkan anak cucu dan rejeki yang melimpah kepada kami.
4. Om
Sunrtawantah
subhaga, irawanto
hasamudah (Atharwaweda VII.60.6)
Semoga Hyang Widdhi menganugrahi kami kemakmuran, kegembiraan dan memiliki rejeki yang melimpah.
5. Om Yatra suhardah sukrto madanti, wihaya rogam tanwah swayah (Atharwaweda VI.120.3)
Semoga
kami bisa membuat rumah-rumah kami bagaikan sorga, dan orang-orang
berpikiran mulia, saleh dan sehat bertempat tinggal dirumah kami dengan
ring gembira.
6. Om swasti matra-uta pitre no astu, swasti gobhyo jagate purusebhyah (atharwaweda I.31.4)
Semoga ada kesejahteraan untuk orang tua kami, semoga semua sapi betina dan seluruh umat manausia berbahagia.
7. Om payasca rasas ca annam ca, Annadyam srtah ca satyam ca
Istam ca purtam ca,
Praja ca pasawasi ca (Atharwaweda XII.5.10)
Semoga
terdapat susu, sari buah, makanan, beras , ketertiban, kebenaran,
persembahan, perbuatan-perbuatan yang murah hati, anak-cucu dan
kemakmuran dirumah tangga kami .
Setelah makala-kalaan serabut kelapa tersebut ditaruh di bawah tempat tidur pengantin.
c. Medagang-dagangan.
Pada
saat madagang-dagangan penganten wanita duduk di atas serabut kelapa,
mengadakan tawar menawar hingga terjadi transaksi antara pengantin pria
dan pengantin wanita yang ditandai dengan penyerahan barang dagangan
serta pem- bayarannya. Akhir dari medagang-dagang-an adalah merobek tikeh dadakanyang dipegang oleh pengantin wanita dengan kedua tangannya dan pengantin pria mengambil keris kemudian merobek tikeh dadakan tersebut yang diawali dengan menancapkan keris ke tikeh dadakan. dan
dilanjutkan dengan mengambil tiga sarana kesuburan yaitu keladi,
kunyit, dan andong, yang kemudian dibawa oleh kedua pengantin ke
belakang sanggah kemulan untuk ditanam. Kemudian memutuskan
benang yang kedua ujungnya diikatkan pada dua cabang pohon dapdap.
Selesai memutus- kan benang kedua penganten kemudian mandi untuk
membersihkan diri.
d. Mandi/ Angelus Wimoha
Mandi untuk membersihkan diri ini disebut ”angelus wimoha’,
yang memiliki tujuan pembersihan secara
lahiriah, dan nyomya kekuatan asuri sampad yang masih ada dalam diri
kedua mempelai menjadi kekuatan Daiwi sampad atau nyomya kala bhūta
nareswari menjadi Sang Hyang Smarajaya dan Smara Ratih.
Sehabis mandi kedua mempelai berganti pakaian, memakai pakaian kebesaran dan berhias untuk melakukan upacara dewa
saksi di sanggah pemerajan.
e. Upacara Widhi Widhana
Upacara widhi widhana/majaya-jaya dilakukan setelah selesai melaksanakan upacara makala-kalaan (Setelah mandi)
Rangkaian
upacara widhi widhana /majaya-jaya ini diawali dengan puja yang
dilakukan oleh sang pemuput upacara (Pandita/Pinandita). Setelah sang
pemuput upacara selesai mapuja dilanjut- kan dengan persembahyangan yang
dilakukan oleh kedua pengantin. Sebelum melakukan persembahyangan kedua
pengantin diperciki tirta panglukatan dan dilanjutkan tirta
prayascita.
Persembahyangan
diawali dengan puja trisandya, kemudian dilanjutkan dengan panca
sembah. Selesai sembahyang kedua pengantin diperciki tirtha pekuluh dari
pemerajan atau pura-pura, dan dilanjutkan dengan memasang bija.
Kemudian natab banten sesayut (sesayut nganten). Selesai natab banten sesayut, kedua pengantin diberikan tetebus (benang) dan dipasangkan karawista dan bija. Kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan sumpah perkawinan oleh kedua mempelai dan penandatanganan surat-surat nikah oleh kedua mempelai dan saksi-saksi.Acara selanjutnya Nasehat Perkawinan : Oleh Ketua Adat, PHDI dan Keluarga kedua Mempelai.
Setelah semua berkas pernikahan ditanda
Tangani, dimohonkan
kepada semua hadirin untuk mengucapkan doa Syukur bahwa pernikahan
telah berlangsung secara lancer dan sah. Sumpah dan Doa Syukur
perkawinan dengan cara ngerorod sama dengan sumpah dan doa yang
diucapkan dalam perkawinan dengan cara Memadik/Meminang. Yang membedakan
adalah tidak ada doa mengungkap lawang/Doa restu dari pihak mempelai
wanita. .
f. Majauman
Majauman
merupakan rangkaian terakhir upacara perkawinan umat Hindu etnis Bali.
Majauman merupakan kunjungan resmi yang bersifat religius dari pihak
pengantin pria ke rumah pengantin wanita yang dilakukan setelah upacara
pernikahan selesai.
Majauman
berasal dari kata ”jaum” di mana fungsi jaum atau jarum adalah untuk
merajut atau menyatukan kembali, maka makna majauman dalam rangkaian
upacara perkawinan adalah untuk menyatukan kembali dua buah keluarga
yang bersitegang (biasanya karena salah satu pihak keluarga tidak
merestui karena perbedaan soroh/wangsa/ kasta, sehingga diambil cara
pernikahan ngerorod/ merangkat.
Majauman
biasa-nya dilakukan apabila kedua penganten ngarorod/ merangkat. Arti
mejauman adalah menyatukan kembali dua buah keluarga yang tadinya retak
atau marah akibat anak gadisnya dilarikan oleh calon pengantin pria.
Majauman
juga berarti memberitahukan kehadapan Hyang Guru dan para leluhur
dipihak penganten wanita karena sebelum nya tidak sempat pamit, bahwa
kedua pengantin telah menyatu dalam sebuah upacara perkawinan, serta
mohon doa restu agar selalu melindungi perkawinan atau rumah tangga
kedua pengantin, sehingga selalu dalam keadaan harmonis.
CATATAN PINGGIR
Kebiasaan
pernikahan selama ini di Bali seluruhnya dilakukan di rumah mempelai
Pria, karena pernikahannya dilakukan secara Ngerorod/Merangkat. Sehingga
pihak mempelai wanita sangat pasif.
Di
era yang makin maju, dimana per-nikahan antara kedua mempelai sudah
mendapat restu kedua orang tua, sebaik-nya pernikahan dilakukan dengan
cara meminang/memadik.
Tradisi
merangkat/ ngerorod dijaman dahulu dilakukan untuk mensiasati kakunya
sistem soroh/wangsa atau kasta. Pernikahan dengan system Ngerorod/
Merangkat sangat merugikan pihak wanita, Karena hak-hak keperdata-annya
(perlindungan hukumnya sangat lemah).
Di
jaman kini dimana pemahaman umat terhadap kitab Weda sudah semakin
baik, dimana hak-hak wanita makin dihargai. Sebaiknya smara Stava dan
administrasi nikah/Surat-surat Nikah nya dilakukan saat mempelai wanita
mau diboyong ke rumah mempelai pria, dengan catatan : banten untuk biyakaondan rayascita dibawa oleh pihak mempelai Pria.
Smara Stava dan Administrasi Nikah di-selesaikan dirumah mempelai Wanita, supaya mempelai wanita mempunyai kepastian hukum .
Dalam hal ini acara ngungkab lawang diutamakan sehingga pada saat
mempelai wanita meninggalkan rumah orang tuanya, secara niskala dan
sekala sudah dalam keadaan bersih dan secara hukum keperdataan/hukum
negara juga sudah terjamin. Dan sekaligus merupakan bentuk penghormatan
pihak mempelai pria kepada pihak mempelai wanita dan keluarga besarnya.
Dalam
buku ini, sengaja penulis sertakan doa/kidung/syair-syair pada setiap
tahap pernikahan, karena selama ini biasanya pihak kedua mempelai
bersikap pasip, semua doa mantranya sudah diwakilkan kepada pemuput
nikah/ Jero Mangku.
Buku
ini sebagai usulan dalam tatacara pernikahan Hindu Etnis Bali. Buku
ini memadukan antara tradisi kitab Weda dan kebiasaan turun temurun.
Dalam buku ini, kedua mempelai dan orang tua mempelai ikut aktif
membaca doa-doa/ kidung/ syair sesuai tahapan pernikahan.
Dapat pula
meminta bantuan Jro Dalang yang khusus ditunjuk ( semacam MC ) sebagai
pranata adicara, untuk memandu dan melantunkan doa-doa/kidung/syair
sesuai dengan urut-urutan upacara. Tugas Jero dalang adalah sebagai
master of ceremony, sedangkan jero mangku/pinandita menghantarkan
doa/puja bebantenan.
Kidung-kidung
yang dilantunkan disesuai kan dengan urut-urutan upacara. Kidung bisa
diambil dari kekawin Ramayana saat Sri Rama meminang Dewi Sita, atau
ke-kawin Arjuna wiwaha yang mengisahkan pernikahan Arjuna dengan
bidadari dewi Supraba atau Kekawin Hariwangsa/ kekawin krsnayana yaitu
pernikanan Sri Krsna dengan Dewi Rukmini yang saling mencintai
tetapi tidak direstui oleh ayah mempelai wanita sehingga ditempuh cara
kawin Ngerorod / Merangkat/kawin lari.
Dalam
pernikahan model Krsnawiwaha, Sri Kresna meminta Dewi Rukmini sebagai
kusir kereta, ini dimaksudkan bahwah mempelai wanita (Rukmini) bukan
dilarikan oleh mempelai pria (Sri Krsna) tetapi Rukmini melarikan Sri
Krsna. Peristiwa ini merupakan isyarat Sri Krsna kepada setiap
keluarga bahwa isterilah yang mengatur/ menjalankan manajemen keluarga
(Kusir),.dan suami sekuat tenaga dan pikiran memuluskan jalan dengan
bekerja keras mencari artha.
Tatacara upacaranya di tunjukkan saat melakukan Saptapadi /
saat mengelilingi sangah surya/Api suci, mempelai wanita berada
didepan mempelai pria. yaitu selama 7 putaran mengelilingi Api suci/
Sanggah Surya mempelai wanita me mimpin dengan berada didepan, atau bisa
juga 4 putaran wanita mempimpin dan 3 putaran pria yang memimpin atau
sebaliknya.
Doa-doa/syair-syair
weda yang penulis cantumkan ada yang memakai bahasa Indonesia saja
tanpa mencantukan bahasa sansekerta, karena penulis masih mencari bahasa
aslinya (Sansekerta). Apabila pembaca menemukan bahasa sansekerta-nya
bisa ditambahkan dalam lampiran. Atau dikirimkan ke penulis. Dan juga
kritik dan sarannya, sehingga dalam penerbitan yang akan datang
dapat disempurnakan.
Peralatan Mekala-kalaan dan symbol upacara adat perkawinan Bali
· Sanggah Surya/bambu melekung merupakan niyasa (simbol) istana Sang Hyang Widhi Wasa, ini merupa-kan istananya Dewa Surya. Sebagai saksi utama pernikahan. Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung simbol kekuatan purusa dari Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya sebagai
dewa kebajikan,ketampanan,kebijaksanaan, simbol pengantin pria, di
sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem simbol
kekuatan prakertiSang Hyang Widhi ( Hyang Semara Ratih) dewi kecantikan serta kebijak- sanaan simbol pengantin wanita.
· Kelabang Kala Nareswari ( Kala -Badeg) simbol calon pengantin yang diletakkan sebagai alas upacara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin.
· Tikeh Dadakan (tikar kecil) Tikar yang diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual, tikar adalah sebagai simbol kekuatan Prakerti ( yoni).
· Keris sebagai kekuatan Purusa/ lingga. Biasanya nyungklit keris, dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang pengantin pria.
· Benang
Putih sepanjang setengah meter, terdiri dari 12 bilahan benang menjadi
satu, serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang
pohon dapdap setinggi 30 cm. Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari.
Dengan mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel
kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut. Dari segi
spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan, berarti sang
pengantin telah siap untuk meningkat kan alam kehidupan Brahmacari Asrama menuju Grhasta Asrama.
· Tegen – tegenan, merupakan simbol dari tanggung jawab sekala-niskala. Adapun Perangkat tegen-tegenan ini :
1. Batang tebu : Kehidupan dijalani secara bertahap seperti tebu, ruas demi ruas, secara manis.
- Cangkul : simbol Ardha Candra. Cangkul sebagai alat bekerja, berkarma berdasarkan Dharma.
- Periuk simbol windhu.
- Buah kelapa simbol Brahman
- Seekor yuyu/kepiting simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan.
· Suwun-suwunan (sarana jinjingan) Berupa
bakul yang dijinjing oleh mempelai wanita yang berisi: talas, kunir,
beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri
mengembangkan benih dari suami, dan diharapkan seperti pohon kunir dan
talas yang berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar.
· Dagang-dagangan
melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga
dan siap menanggung segala resiko yang timbul akibat perkawinan
tersebut.
· Sapu lidi (3 lebih). Simbol Tri Kaya Parisudha. Pengantin
pria dan wanita saling mencermati satu sama lain, isyarat saling
memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban
melaksanakan Tri Rnaberdasarkan ucapan, prilaku dan pikiran yang
baik. Disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dalam
menjalani kehidupan berumah tangga.
· Sambuk Kupakan (serabut kelapa). Serabut
kelapa dibelah tiga, di dalamnya diisi sebutir telor bebek, kemudian
dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). Serabut kelapa berbelah tiga simbol dariTriguna (satwam, rajas, tamas). Benang Tridatu simbol Tri Murtimengisyaratkan
kesucian. Telor bebek simbol manik. Kedua Mempelai saling tendang
serabut kelapa sebanyak tiga kali, setelah itu serabut tsb. diduduki
oleh pengantin wanita. Ini mengandung pengertian Apabila mengalami
perselisihan agar bisa saling mengalah, dan selalu ingat dengan
penyucian diril Selesai upacara, serabut kalapa ini diletakkan di bawah
tempat tidur mempelai.
· Tetimpug adalah bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dariSang Hyang Brahma
èMatur suksmeç
Sebagai bahan perbandingan, berikut di sertakan urut-urutan gending Jawa dalam Resepsi pernikahan adat Jawa
1. Pengantin pria datang ke upacara pewiwahan diiringi gending Ladrang, yaitu "Ladrang Wilujeng" atau Ladrang Rajamanggala
3.
Setelah pengantin pria sampai di depan pintu masuk yang telah
ditentukan, pengantin pria berhenti. Selanjutnya pengantin
putri berjalan menjemput pengantin pria sambil saling lempar sebuntel
daun sirih, dengan di bimbing dukun nganten diiringi dengan gending "Kodok Ngorek" . Setelah nginjak telur dan membasuh kaki kedua mempelai
berjalan masuk menuju kursi mempelai diiringi gending Ketawang Laras Mayahingga duduk di kursi pengantin. Antara gending Kodok ngorek ini biasanya langsung dilanjutkan gending Ketawang Laras Maya.
4.
Setelah mempelai duduk di kursi pelaminan, diadakan upacara adat Jawa.
Antara lain Dahar Klimah atau Dulang-dulangan, Titik Pitik, Ngabekten
atau Sungkeman. Pada acara ini biasanya diiringi gending Ladrang Sriwidodo,
Jika seluruh rangaian upacara adat jawa tersebut dilaksanakan, membutuhkan waktu sekitar 4 jam
KIDUNG PENGIRING PEWIWAHAN
Kawitan Tantri - Pendahuluan.
1. Wuwusan
Bhupati. Ring Patali nagantun. Subaga wirya siniwi. Kajrihin sang para
ratu. Salwaning jambu warsadi. Prasama hatur kembang tahon.
2. Tuhu tan keneng api. Pratapa sang prabu Kesyani ruktyeng sadnyari.
Sawyakti Hyang Hari Wisnu. Nitya ngde ulaping ari. Sri dhara patra sang katong.
3. Wetning
raja wibawa, mas manik penuh. Makinda yutan ring bahudanda. Sri
Narendra, Sri Singapati, Ujaring Empu Bhagawanta. Ridenira panca-nana.
Bratang penacasyan. Hatur Hyang Dharma nurageng bhuh.
4. Kadi kreta yuga swapurneng nagantun Kakwehan sang yati.
Sampun saman jayendrya. Weda Tatwa wit.Katinen de Sri Narendra.
Nityasa ngruci tutur. Tan kasareng. wiku apunggung wyara brantadnya ajugul.
Demung Sawit (bawak, dawa)
1. Tuhu
atut bhiseka Nrapati. Sri Eswaryadala. Dala kusuma patra nglung,
Eswarya raja laksmi. Sang kulahamenuhi rajya. Kwening bala diwarga.
Mukya sira. Kryana patih Sangniti Bandeswarya patrarum.
2. Nityasa
angulih- ulih amrih sutrepting nagara, lan sang paradimantriya. Tuhu
widagda ngelus bhumi. Susandi tinut rasaning aji, Kutara manawa. Mwang
sastra sarodrsti. Matangyan tan hanang baya kewuh.
3. Pirang
warsa Sri Nrapati Swaryadala. Tusta ngering sana. Kaladiwara hayu. Sri
narapati. Lagya gugulingan ring taman. Ring yaca ngurddha angung-gul.
Yayamireng tawang. Tinum pyata tinukir. Kamala kinanda-kada. Langu
inipacareng santun.
4. Mangamyat kalangenikang nagara.
Tisoba
awiyar. Indra bhuwana nurun, Kweh tang pakwana titip. Pada kabhi nawa.
Dening sarwendah linuhung. Liwar sukanikang wong. Anamtami
kapti. Arumpuka sari sama angrangsuk bhusana aneka marum.
Daftar Pustaka :
- http://dharmagupta.blogspot.co.id/2013/11/tata-cara-perkawinan-hindu-etnis-bali.html
Nama Kelompok :
- Widayanti
- Nurul Fazri
- Komang Tri Dharma Putra