BAB I
PENDAHULUAN
Bangsa Tengah umumnya dikenal baik dengan mengedepankan norma-norma, moral, dan etika, dan nilai adat istiadat serta nilai kebudayaannya yang sangat dijunjung tinggi. Kepribadian Bangsa Tengah juga identik dengan tutur kata yang lemah lembut dan sopan dalam berpakaian serta santun dalam berperilaku. Tak heran bahwa Bangsa Tengah sangat terkenal dengan keramah tamahan penduduknya yang lebih bersahabat. Salah satu dari bangsa tengah itu adalah bangsa Indonesia.
Sejak jaman dahulu bangsa Indonesia dikenal oleh bangsa lain sebagai bangsa yang memiliki kepribadian positif. Selain itu, Bangsa Indonesia juga dikenal sebagai Negara yang memiliki adat istiadat yang sangat beragam. Sebagai bangsa tengah Indonesia dikenal juga sebagai bangsa yang memiliki kepribadian santun, ramah, suka bergotong-royong, peduli, empati, dan lain sebagainya.
BAB II
TEORI
2.1 Pertama, adanya komunikasi melalui bahasa dan dialek di
anatara mereka. Kedua, pola-pola social kebudayaan yang menumbuhkan perilaku
dinilai sebagai bagian dari kehidupan adat istiadat yang dihormati bersama. Ketiga,
adanya perasaan keterikatan antara satu dan yang lainnya sebagai suatu kelompok
dan yang menimbulkan rasa kebersamaan di anatara mereka. Keempat, adanya
kecenderungan menggolongkan diri ke dalam kelompok asli, terutama ketika
menghadapi kelompok lain pada berbagai kejadian social kebudayaan. Kelima,
adanya perasaan keterikatan dalam kelompok karena hubungan kekerabatan,
genealogis, dan ikatan kesadaran territorial di anatara mereka.
Beberapa budaya local dapat
langsung dapat langsung dikenali dari bahasa yang digunakan di anatara mereka. Bahasa
merupakan symbol identitas, jati diri, dan pengikat di antara suku bangsa. Ironisnya,
terdapat kondisi yang memprihatinkan disebabkan semakin banyak bahasa yang
punah atau hamper punah di dunia, khususnya di Indonesia. Salah satu contohnya
adalah berita tentang bahasa Kaili yang sudah diambnag kepunahan. Bahasa Kaili adalah bahasa ibu
masyarakat etnik Kaili. Suku bangsa Kaili merupakan kelompok terbesar atau
mayoritas masyarakat Sulawesi Tengah (Sulteng). Bahasa Kaili terancam punah
disebabkan pergeseran budaya yag terjadi dalam masyarakat Sulteng sendiri. Kalangan
muda Kaili mulai meninggalkan bahasa ibunya sendiri dalam kehidupan
sehari-hari. Nasib bahasa semakin tersedut karena ketiadaan standardisasi
(pembakuan) ketatabahasaan Kaili.
BAB III
ANALISIS
3.1 Gejala yang sama juga terjadi
di Tanah Sunda. Penutur bahasa Sunda terus berkurang. Pemerintah daerah Jabar
telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Pelestarian, Pembinaan, dan
Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda. Ternyata, Perda tersebut tidak berlaku sebagaimana mestinya. Penduduk Jabar
memang bukan hanya etnik Sunda, melainkan juga etnik Cirebon dan beberapa etnik
lainnya. Menurut penelitian, sikap masyarakat Sunda terhadap bahasa Sunda
menunjukkan bahwa hanya sekira 35,4 persen keluarga sunda yang menggunakan
bahasa Sunda sebagai bahasa utama dalam komunikasi social sehri-hari, 47 persen
berbahasa campuran Sunda-Indonesia, 64
persen berbahasa Indonesia, sebanyak 1,6 persen berbahasa campuran
Sunda-Jawa-Indonesia dan 8,8 persen berbahasa campuran Sunda-Indonesia-Inggris.
Krisis penggunaan bahasa ibu di tanah air secara antropologis berdampak negative
terhadap kelestarian alam.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
(Ensikiopedi Islam untuk
pelajar, 2001:12)
https://sarahfaradina.wordpress.com/2013/12/04/ilmu-budaya-dasar-2/